Undangan Makan Duren, 9 April

Apa yang tampak dalam perhelatan “demokrasi” di Indonesia belakangan ini, tidak lebih dari sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu, malahan justru mengerikan, menakutkan, dan mencemaskan. Dan bila Anda merasakan semua itu, berarti Anda adalah seorang warga negara yang baik, seorang Pancasilais yang setia—yang lebih setia dari TNI, bahkan.

Belakangan ini, tiba-tiba saja bermunculan politisi-politisi baru hasil karbitan partai-partai politik yang jumlahnya mengerikan itu. Partai politik ramai-ramai merekrut caleg guna mendongkrak perolehan suaranya, tanpa peduli kapasitas dan integritas sang caleg yang direkrut itu. Tokoh-tokoh yang punya pengaruh (dari tokoh adat, tokoh agama, sampai tokoh preman pasar) diperebutkan oleh partai-partai politik untuk dijadikan caleg, dengan harapan bisa menambah perolehan suara. Inilah konsekuensi dari banyaknya partai politik, di tengah minimnya warga negara kita yang memiliki kapasitas dan integritas ideal untuk diusung menjadi anggota legislatif.

Harus diakui dengan jujur, bahwa bangsa ini telah miskin sumber daya manusia yang cerdas sekaligus bermoral. Penduduk negeri ini memang keempat terbesar di dunia (lebih dari 200 juta jiwa), tapi warga yang baik-baik itu, jumlahnya paling berapa. Boleh dikata, bisa dihitung jari. Kasihan benar.

Terlepas dari ideal atau tidaknya sistem suara terbanyak, mekanisme seperti itu di sisi lain, telah memuluskan jalan bagi caleg-caleg yang tak punya otak dan nurani, tetapi punya uang dan “popularitas”, untuk mendapatkan kursi. Bukankah itu sadis? Yang lebih sadis lagi karena kita semakin sulit menemukan caleg-caleg yang punya otak dan nurani, sekaligus punya amunisi.

Kita semua tentu setuju, setelah membuka mata lebar-lebar, bahwa sebagian besar—untuk tidak mengatakan seluruhnya—dari mereka yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif itu adalah orang-orang yang sekadar mencari nafkah di parlemen. Orang-orang yang isi kepalanya hanya ingin menyusu, memerah, dan merampok uang negara. Orang-orang yang niatnya memang sudah busuk dari awal.

Anda, saya, dan masyarakat kita, tahu soal itu. Sebagian dari kita, menggerutu, sebagian yang lain, pasrah. Ada yang terbakar amarahnya, ada yang dengan manisnya mencentang dengan suka-cita di TPS-TPS.

Oh, iya. Tanggal 9 April 2009 ini, bertepatan dengan hari Pemilihan Umum, kawan saya mengundang saya ke kebun durennya. Makan duren, lah. Kawan saya itu juragan duren. Kebun durennya luas. Lima ratus ribu TPS pun bisa dibuat di sana. Dan karena letaknya cukup jauh, sangat terpelosok, melewati jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, kita harus berangkat sekitar pukul setengah enam pagi. Kira-kira, pukul sepuluh kita tiba di sana. Dan mulailah kita beraksi. Makan duren sampai bodoh. Kira-kira, jam dua siang kita berangkat pulang. Bawa pulang duren tentunya. Mau?

Kalau Anda berminat, Anda boleh ikut. []

[selengkapnya]

Eksotisme Lembah Ramma

Catatan Perjalanan 14—16 November 2008.

Sekitar pukul 17.00 WITA, rombongan (David, Akbar, Magamo, Accang, Putu, dan saya sendiri) berangkat dari sekretariat Mapala Teknisi (Fakultas Teknik UNM) di Parangtambung menuju Desa Lembanna (Malino). Naik motor. Saya dibonceng Akbar; Putu dengan Magamo; Accang dengan David. Menghajar jalan gelap dan rusak (karena sedang ada perbaikan). Untung saja tidak hujan. Beberapa kali ban motor masuk lubang atau menghantam gundukan kerikil. Kami istirahat sejenak ketika masuk Kota Malino yang dingin. Pinus-pinus itu sudah tak tampak jelas. Samar-samar di bawah bulan. Setelah itu lanjut lagi. Menerabas dingin.

Pukul 21.20, kami masuk ke Desa Lembanna. Jalanannya tidak beraspal. Batu-batu kali berhamburan seperti ranjau. Menurun. Menanjak. Kalau menanjak, gas motor harus dibantu dengan kaki, sebagai dayung. Beberapa menit kemudian, kami sudah tiba di basecamp (alias rumahnya Emmak). Kami disambut Emmak dengan mesra. Dingin sekali. Desa Lembanna berada di ketinggian 1400 mdpl. Packing dibongkar. Kompor, ransum, sleepingbag, dan (tentunya) rokok, dibongkar. Bikin asap dulu. Di mulut, di dapur. Hmmmmm…. Tambah kopi. Air seperti di kulkas. Tapi masih sempat-sempatnya Putu mandi. Manusia batu! Setelah itu makan-makan, ngerokok lagi, ngopi lagi, bercanda-bercanda lagi, baku kerjai lagi, tes-tes kamera. Awalnya rusak, tapi bagus lagi. (Belakangan, tidak ada hasil foto dari kamera pinjaman itu yang bagus. Grgrgrgrgrrrrrr! Jengkeeeeeel! Untung ada kamera hape. Lumayanlah buat pamer.)



Menembus Keharuan
Keesokan paginya, pukul 09.24 (15 Nov 2008), kami berangkat, setelah packing. Kamera dites lagi. Rusak! Tidak bisa tangkap gambar rupanya, kalau siang. Grgrgrgrrrrrrr. Mau apa lagi. Setelah berdoa, kami mulai mengayunkan kaki. Rencana semula, kami hendak ke puncak Bawakaraeng (ketinggian 2.830 mdpl, 119°56'40" BT dan 05°19'01" LS), tapi karena cuaca tidak memungkinkan, akhirnya kami memutuskan untuk ke Lembah Ramma saja. Tadi subuh, sekitar pukul 03.00, empat orang kawan dari Maestro UNM sudah duluan ke sana.

Dari Lembanna pendakian dimulai, melewati perkebunan (sayur) penduduk, lalu masuk hutan pinus. Puisi-puisi Soe Hok Gie dan soundtrack film Gie menemani kami. Membuat Putu dan Magamo menjadi melankolis dan tak henti-hentinya menarik nafas panjang, menelan ludah, penuh haru. Cuaca cerah, tapi kami tetap waspada kalau-kalau hujan. Maklum, sekarang musim hujan. Di kiri kanan, hamparan semak dan pepohonan yang tersenyum-senyum. Menuju Pos 1, medan tak begitu menanjak. Tapi kemiringannya itu cukup membuat nafas hampir habis. Maklumlah, saya sendiri sudah lebih dari setahun tak naik gunung lagi. Asap rokok keluar dari telinga. Belum apa-apa, Accang sudah pusing.

Sejam kemudian, kami sudah tiba di Pos 1. Istirahat sejenak, jalan, belok ke kanan, menuju Ramma. Masih hutan pinus. Medan landai. Tak ada tanjakan. Semak-semak berjejalan sepanjang jalan. Kami semua menarik nafas panjang-panjang. Menghirup kebeningan. Kesegaran yang tak dijumpai di kota. Angin dingin. Terhampar segenap kemewahan alam. Kemewahan yang langka, yang mustahil bisa diciptakan Microsoft, sekalipun. Mustahil!

Setelah melewati sungai (kecil) pertama, medan sedikit menanjak. Tapi belum apa-apa. Betis-betis masih kuat. Terus jalan. Jalan terus. Di depan, Putu dan Magamo yang bertugas membawa ransum, kompor, dan tenda, melangkah bagai orang gila. Cepat. Melesat. Kadang Putu berhenti sebentar, mempersilahkan kami lewat. Tapi tak lama kemudian, tiba-tiba ia membunyikan klakson lagi. Melesat lagi. Terpaksa kami harus mempersilahkan dia lewat. Agar tak ditabrak. Ia benar-benar seperti kerbau barang. Kalau kita menghalangi jalannya, isi perut kita akan terhambur diinjaknya, dilindasnya. Bahaya! Mendaki bersama Putu membuat barang bawaan menjadi ringan. Anak baik!

Semakin jauh kaki melangkah, medan makin menantang. David, mantan Ketua Mapala Teknik, berjalan dengan damai. Ia kawan jalan yang asyik. Rendah hati pula. Pengetahuan dan pengalamannya tak perlu diragukan dalam soal ini. Sementara Accang, Akbar, dan saya, merayap seperti cicak kurus. Disamping tidak kuat jalan cepat, aku juga lebih senang berlama-lama memandangi hutan-hutan. Memandangi hutan sama dengan memandangi gadis cantik. Kita tak akan puas kalau hanya sebentar. Maunya berlama-lama.

Di sungai kedua, kami istirahat. Kompor dipanaskan. Mendidihkan air. Minum kopi, makan biskuit. Cerita-cerita. Bercanda-bercanda. Terbayang lagi kenang-kenangan saat masih di kampus dulu. Kuceritakan. Paling seru ketika bercerita soal Ospek. Saya masih sempat meng-Ospek David, tahun 2003. Waktu itu saya menjabat Ketua (Komisi) III MAPERWA Fakultas Teknik, sebelum naik di BEM UNM (2004).

Tapi langkah harus diayun lagi. Dan medan makin menantang. Tanjakannya hebat. Tapi belum apa-apa. Sekarang kami memasuki hutan yang gelap. Pohon-pohon yang dijalari lumut. Uh, gelap. Kabut mulai turun. Menusuk tulang, menikam kesombongan. Lumut-lumut yang berjurai membuat suasana lain. Seperti di film-film horor. Kami terus melaju. Bulu-bulu sedikit merinding. Di depan sana ada sungai ketiga (terakhir). Medan menurun. Lutut terasa mau copot. Di sepanjang jalan menuju sungai terakhir, saya dan Akbar banyak cerita. Soal kampus, gerakan mahasiswa, alam ini, idealisme, dan tentu saja soal-soal klasik di kepala laki-laki. Akbar sendiri ikut mendaki untuk melupakan kuliahnya yang hampir drop-out. Kasihan benar kawan kita satu ini. Kuceritakan pengalamanku waktu aku drop-out tapi dipanggil kembali, dan akhirnya tamat juga. Kisah memalukan, membosankan, tapi selalu saja kubanggakan. Kami istirahat sejenak di sungai terakhir. Foto-foto. Gerimis turun, tapi segera padam. Accang mau boker, tapi tak jadi. Perjalanan lanjut lagi.

Di depan, tanjakan sungguh menantang, tapi belum apa-apa. Langkah satu per satu. Sedikit demi sedikit. Nafas juga begitu. Beban ransel di pundak makin terasa. Betis mau pecah, seperti ban motor yang tersiram panas. Udara makin menikam. Dingin. Kabut masuk ke hidung. Mencuci paru-paru. Semuanya terasa berat. Berat. Tapi belum apa-apa. Nafas nyaris hilang. Menguap di langit, terbawa angin, bersemayam di gunung yang misterius ini.

Tapi itu semua itu segera terbayar ketika kami sudah mencapai puncak Talung (kalau tidak salah). Wow, dahsyat! Dinding-dinding gunung mengelilingi kami. Puncak-puncaknya yang tegar. Dan kabut itu. Mata leluasa menyerbu ke lembah Ramma, ke aliran sungai, ke hutan-hutan yang terasing. Keindahannya tak bisa dibahasakan. Duhai. Di situ juga ada in-memoriam. Exel, namanya. Wafat tak jauh dari situ. Kabarnya ia tersesat. Tapi kematiannya misterius sampai kini. Di banyak bagian di pegunungan ini, hampir selalu kita temui prasasti-prasasti in-memoriam pendaki-pendaki malang. Doa kami untuknya.Kupandangi langit, setelah ditinggalkan kabut. Mengambil gambar. Berfose seperti foto model. Tak apa kan? Cukup lama kami di situ. Membakar tembakau. Menghirup kabut. Tidur-tiduran dulu. Bersandar di batu. Setelah itu kami menuruni dinding yang terjal, menghambur ke lembah Ramma yang eksotik. Memasang tenda. Masak. Mengisi perut kosong. Waktu itu pukul 15.20 WITA. Seru!

Eksotisme
Kebetulan, waktu itu rekan-rekan dari Maestro UNM sedang mengadakan Diksar. Tenda kami cukup jauh dari mereka. Tepat berada di bibir sungai kecil yang bening, dingin, dan tak henti berdendang memukul batu-batu. Yang paling asyik tentu saja makan, bercanda, merokok, dan saling mengerjai. Berlari-lari, berjalan ke sana kemari, memeriksa lamunan-lamunan. Mencari kayu bakar dari ranting-ranting kering. Putu rupanya mantan koki restoran. Masakannya tak perlu diragukan lagi. Senikmat udara yang mengharu-biru itu.

Sore. Dan semuanya tampak jingga. Puncak-puncak gunung yang menenggelamkan matahari. Kuabadikan itu dalam lidahku yang kaku. Tak bisa kuceritakan, kawan. Aku berteriak-teriak dalam hati. Betapa sangat kecilnya kita. Di antara benteng-benteng raksasa. Dan langit yang menjadi payung agung.

Malam. Api unggun berkobar-kobar. Tapi dingin. Teramat. Panasnya api unggun bahkan tak bisa mengusirnya. David tak bisa diganggu. Ia terlalu serius menyiapkan makan malam kami. Anak baik! Seperti seorang ibu yang menyuruh anak-anaknya yang lapar untuk sabar. Ia buat bakwan. Nikmatnya luar biasa. Mahasiswa Teknik Mesin ini nampaknya punya bakat jadi koki. Malam itu kami makan dengan lahapnya, seperti orang lapar tiga bulan. “Ueeeekkkkk” sendawa kenyang.

Berkumpul di api unggun. Menghangatkan jari-jari. Cerita-cerita lagi. Magamo tak henti-hentinya bernyanyi. Dari lagunya Broery Marantika, Ebiet G Ade, hingga Sheila on 7. Tak ketinggalan lagunya Gie. Katanya, ia bernyanyi untuk mengundang bidadari malam. Suaranya cukup merdu. Tak seperti suaranya Accang yang hanya bisa untuk teriak doang. Pukul 22.00, saya dan Accang sudah ngantuk. Magamo masih bernyanyi. Tak mau berhenti. Putu setia mendengarnya. Mereka berdua larut dalam romantisme yang luar biasa. Ingat pacar(?). Mungkin. Aku dan Accang masuk tenda. Bersembunyi di sleepingbag. Dingin. Kemudian terlelap.

Menurut keterangan David (yang diceritakannya waktu kami sudah tiba di Makassar), malam itu ia sempat berjumpa dengan “bidadari”. Saat kami semua terlelap dalam tenda, David dan Akbar masih di api unggun. Saat bulu kuduknya merinding, David berbalik ke belakang. Wow, rupanya di sana tengah mematung sang bidadari berambut panjang itu. Berjubah putih. Tanpa ekspresi. David berbalik lagi. Menyalakan api lagi. Sementara Akbar terus sibuk dengan pikirannya sendiri. David berpaling ke belakang lagi. Sang bidadari masih ada di sana. Berdiri tanpa kata-kata. David tenang saja, walau jantungnya berdetak hebat. Begitulah alam ini menampakkan dirinya.

Perjalanan Kembali
Minggu, 16 Nov 2008, sekitar pukul 10.18 WITA, kami sudah bersiap-siap untuk kembali. Barang-barang sudah di-packing lagi. Sampah-sampah dibersihkan. Doa-doa dihaturkan. Seraya berharap suatu waktu akan kembali ke sini lagi. Sebelumnya, kami ke rumah Daeng (Tata) Mandong dulu. Tata Mandong adalah penghuni tetap lembah Ramma. Usianya sekitar 80 tahun. Ia adalah penjaga hutan di sekitar kawasan itu. Tata Mandong tinggal sendiri di gubuk kayunya yang mungil. Di depan gubuknya itu ia membuat empang. Ikannya banyak, tapi waktu itu masih kecil-kecil. Semua pendaki yang pernah ke Ramma pasti kenal dengan beliau. Sebelum berangkat pulang, kami sempat foto-foto dan pamit dengan manusia unik ini. Beliau sosok yang amat bersahaja. Jago pula main sindrili’ (kesenian khas suku Makassar).

Saat kami melangkah pulang, di hadapan kami berdiri dinding gunung, yang ketika melihatnya saja kita sudah payah duluan. Berdiri tegak. Trek yang luar biasa melelahkan. Accang kembali pusing. Saya dan Akbar berada paling belakang. Karena perutnya terisi penuh, Akbar kehilangan tenaga untuk menaiki dinding tegak itu. Kalau dari tadi aku bilang “belum apa-apa”, kini aku harus bilang, “ini benar-benar apa-apa”. Saya seperti mau menyerah menaiki dinding tegak itu. Tapi tak ada pilihan. Langkah perlahan, istirahat lagi, melangkah lagi, tarik nafas, minum air, menyeka keringat, mendaki lagi, memompa semangat lagi. Saya seperti sedang berjuang melawan raksasa sendirian. Kutatap ke puncak, dan masih jauh. Begitu terus. Waktu terasa berjalan lambat. Dari lembah Ramma ke puncak Talung, kami lalui lebih dari 30 menit. Dengan sisa nafas yang menggantung di ujung pantat.

Waktu tiba di puncak, aku merasa seperti telah mengalahkan semua pasukan kompeni Belanda. Sendirian. Betapa puasnya. Betapa indahnya, kawan!

Perlajalan pulang cukup ramai, karena kami bersamaan dengan anak-anak Maestro. Setelah meninggalkan Talung, perjalanan seperti terasa ringan. Tanjakannya tidak ada apa-apanya dibanding trek yang barusan kami lalui. Di tengah jalan, Accang sempat mengambil sepotong rotan yang tercecer di jalan. Katanya untuk persiapan mencambuk anaknya kelak kalau nakal. Eehh…, tapi saat kami berhenti istirahat, rotan itu ia lupa. Dan selamatlah calon anaknya itu dari cambukan rotan hutan Bawakaraeng itu.

Setelah melewati sungai kedua, hujan mulai mengguyur. Ransel dipastikan tidak kena hujan. Cover rain dipasang. Accang mengenakan ponco loreng yang diberikan oleh adiknya yang tentara. Waktu itu kami (saya, Akbar, dan Accang) berjalan beriringan dengan seorang anggota putri Maestro. Astrid, namanya. Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2005. Waktu hujan, Akbar meminjamkan jas hujannya pada anak itu. Belakangan, Akbar rupanya tak bisa melupakan gadis itu. Sialan! David, Putu, dan Magamo sudah duluan. Di sepanjang jalan kami bercanda, mengolok-olok Accang yang mirip tentara. Accang cerita soal orang Papua yang masuk tentara tapi ditolak karena giginya lubang. Orang Papua itu protes: “Tentara itu mau baku tembak atau baku gigit, Pak!” Kami semua tertawa mendengar cerita Accang itu. Tapi Astrid diam saja. Mungkin ia malu untuk tertawa, padahal banyak cerita yang bikin ngakak di sepanjang jalan itu.

Semuanya basah. Pohon-pohon dan ranting. Semak pun. Aku kuyup. Akbar juga. Walau lelah, kami tak berhenti. Hanya akan membuat badan menggigil. Kami jalan dengan cepatnya. Bercanda sepanjang hutan. Dan hujan yang menyairkan keheningan. Mengabarkan berita damai dari langit. Menyapa gunung dan lembah. Pukul 14 lewat, kami sudah hampir memasuki lembanna. Hujan tak juga reda. Dingin tapi romantik. Aku memejamkan mata, menghisap pohon-pohon, dan kumasukkan semuanya ke dalam dadaku. Aku teringat lembah Ramma lagi. Tata Mandong. Aku teringat ibuku di kampung. Aku ingin segera pulang. []

[selengkapnya]

Demokrasi untuk Pemodal

Sekalipun ada fakta yang menyebutkan bahwa kaum kapitalisme-neoliberal sangat tidak menginginkan demokrasi, namun, fakta lain juga mengemukakan bahwa mereka telah memanfaatkan dan memanipulasi demokrasi untuk mengakumulasi keuntungan dan menguatkan pengaruhnya. Demokrasi sedemikian rupa telah dibajak oleh para pemilik modal untuk menekan ditetapkannya kebijakan-kebijakan yang menguntungkan mereka.

Pada dasarnya, demokrasi dan neoliberalisme, merupakan dua hal yang saling bertentangan. Demokrasi menginginkan adanya mekanisme ekonomi yang demokratis (adil), sementara neoliberalisme menghendaki adanya mekanisme ekonomi yang lebih menguntungkan pemilik modal raksasa saja. Demokrasi menghendaki dipatuhinya aspirasi rakyat banyak, sementara neoliberalisme berkeinginan untuk mendiktekan segala keinginannya kepada masyarakat. Bagi neolib, ada kalanya demokrasi merupakan beban, karena kehendak mayoritas massa-rakyat kerap kali menghambat berfungsinya agenda korporasi, investasi, dan pasar bebas. Maka, apabila terjadi konflik antara demokrasi dan agenda liberalisme ekonomi, maka kaum neoliberal akan memilih untuk mengorbankan demokrasi.

Menyangkut implementasi demokrasi, menarik untuk mencermati pendapat Samuel P. Huntington, dalam Gelombang Demokratisasi Ketiga (1995), yang mencatat bahwa, “Demokrasi tidak mungkin terjadi di negara-negara miskin, sedangkan di negara-negara kaya proses ini sudah terjadi”. Huntington berpendapat, perkembangan ekonomi telah mendorong terjadinya perubahan-perubahan pada struktur sosial dan nilai-nilai, yang pada gilirannya mendorong proses demokratisasi, yaitu: Pertama, bahwa tingkat kemakmuran ekonomi dalam masyarakat akan membentuk nilai-nilai dan sikap warga negaranya, menyuburkan rasa tanggungjawab, kepuasan hidup, dan kompetensi, yang pada gilirannya berkolerasi kuat dengan keberadaan lembaga-lembaga demokrasi;

Kedua, perkembangan ekonomi secara otomatis akan meningkatkan taraf pendidikan masyarakat. Orang yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memiliki rasa tanggung jawab, kepuasan, dan kompetensi, yang cocok dengan demokrasi; Ketiga, perkembangan ekonomi menyebabkan lebih banyak sumberdaya yang tersedia untuk didistribusikan di antara kelompok-kelompok sosial, sehingga memudahkan tercapainya akomodasi dan kompromi; Keempat, perkembangan ekonomi mendorong adanya keterbukaan dalam masyarakat, yakni terbukanya akses dan komunikasi dengan pihak luar. Sehingga ide-ide mengenai demokrasi mulai dikenal, dipelajari, dan berusaha diterapkan, dan; Kelima, perkembangan ekonomi telah mendorong meluasnya kelas menengah. Demokrasi akan sulit berkembang di dalam situasi yang timpang, dimana terdapat mayoritas orang yang miskin, berhadapan dengan oligarki kecil yang kaya. Di hampir setiap negara, pendukung utama demokratisasi yang paling aktif berasal dari kelas menengah perkotaan, dan tidak lagi dipimpin oleh kaum tani atau buruh industri. Di sini, kita boleh saja setuju atau menolak pendapat Huntington itu.

[dikutip dari: Alto Makmuralto, Dalam Diam Kita Tertindas, Paradigma Institute: 2007]

[selengkapnya]